Noerhayati

Guru MAN 1 Model Bukittinggi, Mapel Bahasa Indonesia. Motto "Pantang Mundur Sebelum Menang" ...

Selengkapnya
Sepotong Ubi Rebus

Sepotong Ubi Rebus

Sepotong ubi rebus penyelamat perut keroncongan pagi ini. Apalagi diberikan dengan rasa cinta dan diiringi rasa ikhlas. Maka, akan sangat berarti sekali bagi yang menerima dan yang memberi.

Sejauh mata memandang, seorang anak kecil asyik dengan sebuah boneka di tangannya. Dia bermain dengan asyik dan ceria. Kemudian Mita ibunya menatap si anak dengan penuh haru. Tampak anak sungai menggenang di mata beningnya. Matanya tak berkedip memperhatikan anak semata wayangnya.

“Bunda.” Kata anaknya.

Suara Aini membuyarkan tatapan nanar, Mita. Anak semata wayangnya itu seakan tahu apa yang ada dalam pikiran bundanya.

“Apa, Nak? Mau main sama bunda ya? Tanya Mita.

“Bun”. Rengek Aini sambil memeluk Mita dengan erat.

“Tenang, Nak. Kita pasti bisa melewati cobaan ini dengan kuat.” Ucap Mita dalam hati.

Pelukan Aini anak semata wayangnya, mampu menguatkan Mita menghadapi cobaan hidupnya. Hingga ia lebih semangat lagi untuk memperjuangkan kehidupannya agar lebih baik.

Tetiba, tercium aroma tak sedap. Mita mengarahkan indra penciumannya ke segala arah. Namun, sumber bau tersebut tak kunjung ia temukan.

“Aini, main sendiri dulu ya.” Katanya pada anaknya.

Kemudian ia tinggalkan anaknya bersama mainannya. Mita berjalan menuju arah dapur. Baru saja kaki kanannya menapak di pintu dapur, tampak asap mengepul-ngepul dari panci yang berada di atas kompor.

“Astagaaa… ubiku gosong” pekik Mita.

Langsung ia meloncat ke arah kompor yang apinya masih menyala. Kemudian mematikan kompor secepat kilat agar api tak menyambar asap yang mengepul dari dalam panci.

“Hei, jangan mewek gitu donk. Kamu pasti bisa menjalani hidup ini.” Sapa sebuah suara.

Mita plingak plinguk mencari sumber suara itu. Tapi wujud yang berbicara tak kunjung kelihatan. Dia heran, mengapa ada suara. Suara yang tidak asing lagi di telinganya.

“Aneh.” Ucap Mita dengan heran.

By Noer

#bahagiadenganmenulis
#menulisitubahagia
#virusbahagia

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Terima kasih bu, telat mengingatkan tentang makna sebuah bu. Apapun kadar manfaat pada suatu kebendaan tergantung situasional suatu keadaan. Teringat saat tersasar ditengah gunung saat, makanan apapun yang diketemukan sangat berarti, banyak uang tetapi tidak berguna karena tidak adanya yang bisa dibeli. Sangat menginspirasi. Bahagia, sukses, dan sehat selalu. Barakallah

15 Apr
Balas

Terima kasih ulasannya pak Mulya. Belajar memberi manfaat pada sesuatu. Semoga kita selalu menjadi insan yg tetap bersyukur. Terima kasih juga telah mampir di lapak saya. Salam bahagia dan sukses kembali.

15 Apr

Ubi bakar bun hehehe. Cerita yanng syarat makna, dalam setiap peristiwa selalu ada semangat dan harapan. Semangat menulis, barakallah dan sukses selalu.

15 Apr
Balas

Ubi rebus rasa bakar, Bun. Belajar memaknai setiap putaran kehidupan, Bun. Salam bahagia dan sukses selalu.

15 Apr

Suara siapa tuh Bunda? Serasa ada horor nya yaa? Hehe. Mantap Bun. Pengen ubi rebus or bakar juga nih

15 Apr
Balas

Suara penyemangat kak Fe. Terdengar tapi ngg kelihatan.

15 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali